VGA AMD Layak Dibeli? Kelebihan dan Kekurangan Radeon yang Perlu Diketahui

Teknologi125 Views

VGA AMD Radeon selama bertahun tahun menjadi salah satu pilihan utama bagi pengguna PC yang menginginkan kartu grafis untuk bermain game, membuat konten, hingga menjalankan aplikasi komputasi tertentu. Persaingannya dengan NVIDIA membuat pembelian kartu grafis tidak lagi cukup dilakukan dengan melihat kapasitas VRAM atau angka frame per detik saja. Pengguna perlu memperhatikan jenis permainan, resolusi monitor, aplikasi yang digunakan, konsumsi listrik, fitur tambahan, hingga harga kartu di pasaran.

Memasuki 2026, posisi AMD semakin menarik setelah hadirnya keluarga Radeon RX 9000 berbasis arsitektur RDNA 4. Generasi ini membawa peningkatan besar pada ray tracing, akselerasi AI, serta teknologi FidelityFX Super Resolution. Di sisi lain, beberapa keterbatasan yang selama ini melekat pada Radeon belum sepenuhnya hilang, terutama ketika masuk ke penggunaan profesional tertentu seperti rendering 3D, aplikasi berbasis CUDA, dan sebagian pekerjaan AI.

Performa Rasterisasi Masih Menjadi Salah Satu Kekuatan Radeon

Salah satu alasan utama pengguna memilih VGA AMD adalah performa rasterisasi yang kompetitif. Rasterisasi merupakan metode rendering yang masih digunakan secara luas oleh game ketika fitur ray tracing tidak diaktifkan. Dalam kondisi seperti ini, sejumlah kartu Radeon dapat menawarkan frame rate yang sangat tinggi pada resolusi 1080p maupun 1440p.

Pengujian TechSpot terhadap Radeon RX 9070 XT dan GeForce RTX 5070 Ti pada 52 game memperlihatkan bahwa RX 9070 XT memiliki performa rasterisasi yang sangat kuat. Pada sejumlah permainan, kartu AMD bahkan mampu mengungguli RTX 5070 Ti ketika ray tracing dimatikan. Hasil akhirnya menunjukkan kedua kartu berada pada kelas performa yang sangat berdekatan sehingga harga aktual menjadi salah satu pertimbangan terpenting bagi pembeli.

Kondisi tersebut membuat Radeon menarik bagi pemain yang lebih mengutamakan frame rate tinggi dibanding mengejar seluruh efek pencahayaan berbasis ray tracing.

Game kompetitif seperti permainan tembak menembak, balapan, MOBA, serta beberapa permainan dunia terbuka juga tidak selalu membutuhkan ray tracing. Dalam penggunaan semacam ini, kekuatan rasterisasi Radeon dapat memberikan pengalaman bermain yang sangat baik.

Menurut penulis, salah satu kesalahan ketika memilih VGA adalah menilai seluruh kemampuan kartu hanya melalui ray tracing. Sebagian besar waktu bermain pengguna masih dapat berlangsung menggunakan rasterisasi, sehingga performa pada bagian ini tetap sangat penting.

Kapasitas VRAM Sering Menjadi Nilai Jual yang Sulit Diabaikan

AMD cukup agresif dalam memberikan kapasitas memori pada beberapa kartu grafisnya. Radeon RX 9070 dan RX 9070 XT, misalnya, dibekali VRAM GDDR6 sebesar 16 GB dengan antarmuka memori 256 bit. Kapasitas tersebut memberi ruang cukup besar ketika menjalankan game dengan tekstur beresolusi tinggi.

VRAM menjadi semakin penting ketika resolusi meningkat. Permainan modern dapat mengonsumsi memori cukup besar ketika tekstur kualitas tinggi, ray tracing, serta berbagai efek visual digunakan secara bersamaan.

Kapasitas VRAM yang lega juga berguna bagi pengguna aplikasi penyuntingan video, desain, pengembangan game, serta beberapa pekerjaan AI lokal. Meski kapasitas memori bukan satu satunya penentu kecepatan, keterbatasan VRAM dapat menimbulkan masalah ketika beban kerja melampaui kapasitas yang tersedia.

Pengujian Puget Systems terhadap RX 9070 XT bahkan menilai 16 GB VRAM sebagai salah satu bagian menarik dari kartu tersebut di kelas harganya. Dalam beberapa pekerjaan penyuntingan video dan Unreal Engine, Radeon tersebut mampu memberikan hasil yang kompetitif.

Ray Tracing Radeon Kini Lebih Kuat Dibanding Generasi Lama

Ray tracing dahulu menjadi salah satu titik lemah paling mudah terlihat pada Radeon. Perbedaannya cukup mencolok ketika kartu AMD dibandingkan dengan GeForce RTX pada game yang menggunakan refleksi, bayangan, dan pencahayaan berbasis ray tracing secara intensif.

RDNA 4 membawa perubahan besar. AMD menyebut Raytracing Accelerator generasi ketiganya memiliki kemampuan pemrosesan ray tracing per Compute Unit hingga sekitar dua kali dibanding RDNA 3.

Pengujian independen juga memperlihatkan peningkatan tersebut bukan sekadar klaim spesifikasi. Tom’s Hardware menilai RX 9070 XT membawa peningkatan besar pada kemampuan ray tracing dibanding generasi Radeon sebelumnya. Meskipun NVIDIA masih memiliki keunggulan dalam sejumlah pengujian ray tracing berat, jaraknya sudah jauh lebih kecil dibanding beberapa generasi terdahulu.

Bahkan pada beberapa game yang diuji TechSpot, RX 9070 XT dapat menyamai atau mengalahkan RTX 5070 Ti dalam kondisi ray tracing aktif. Namun hasilnya sangat bergantung pada game sehingga satu pengujian tidak dapat digunakan untuk mewakili semua judul.

FSR Berkembang Pesat dengan Teknologi Berbasis Machine Learning

AMD FidelityFX Super Resolution menjadi bagian penting dari ekosistem Radeon. Teknologi tersebut memungkinkan game dirender pada resolusi lebih rendah sebelum gambar dibangun kembali menuju resolusi target, sehingga frame rate dapat meningkat tanpa harus sepenuhnya mengorbankan kualitas gambar.

Perkembangannya semakin besar pada generasi terbaru. Teknologi yang sebelumnya dikenal sebagai FSR 4 kini menjadi bagian dari FSR Redstone. AMD menggunakan pemrosesan berbasis machine learning untuk meningkatkan kualitas upscaling, frame generation, dan sejumlah proses rendering lainnya.

FSR Upscaling berbasis machine learning tersedia pada Radeon RX 9000 dan RX 7000, sementara sejumlah kemampuan Redstone yang lebih lengkap berfokus pada RDNA 4. Dukungan setiap fitur tetap bergantung pada GPU dan game yang digunakan.

Kelebihannya adalah pengguna Radeon kini mempunyai teknologi peningkatan frame yang jauh lebih matang dibanding beberapa tahun sebelumnya. FSR Frame Generation juga dapat digunakan bersama teknologi lain untuk menghasilkan gerakan yang terlihat lebih halus.

Namun dukungan game tetap perlu diperiksa. Tidak semua judul memiliki implementasi FSR yang sama baiknya, sehingga kualitas gambar dan peningkatan performanya dapat berbeda.

AMD Adrenalin Menawarkan Banyak Fitur dalam Satu Aplikasi

AMD Software Adrenalin Edition menjadi salah satu bagian yang sering tidak diperhatikan ketika orang membandingkan spesifikasi GPU. Melalui satu aplikasi, pengguna dapat mengatur driver, profil game, frame rate, Radeon Anti Lag, Radeon Super Resolution, Fluid Motion Frames, perekaman layar, streaming, hingga pengaturan performa kartu.

HYPR RX juga dirancang untuk menggabungkan beberapa teknologi AMD sehingga pengguna tidak perlu mengatur seluruh fitur secara terpisah. AMD mencantumkan Radeon Super Resolution, Fluid Motion Frames, Radeon Anti Lag, dan Radeon Boost sebagai bagian dari ekosistem tersebut.

Bagi pengguna yang senang melakukan pengaturan manual, Adrenalin juga menyediakan kontrol tuning GPU, VRAM, batas konsumsi daya, serta kipas pada kartu yang mendukungnya.

Kemampuan seperti ini membuat perangkat lunak AMD terasa lengkap untuk gaming. Pengguna dapat memantau temperatur, penggunaan GPU, clock, serta frame rate tanpa harus selalu memasang banyak aplikasi tambahan.

Masalah Driver Tidak Bisa Lagi Dinilai dengan Cerita dari Beberapa Tahun Lalu

Salah satu tuduhan paling sering diarahkan kepada Radeon adalah driver yang bermasalah. Pernyataan seperti ini perlu dilihat berdasarkan generasi kartu, versi driver, dan perangkat lunak yang digunakan. Kondisi Radeon saat ini tidak sama dengan sepuluh tahun lalu.

AMD secara rutin menerbitkan pembaruan Adrenalin untuk menambahkan dukungan permainan baru dan memperbaiki masalah. Driver Adrenalin 26.7.1 yang dirilis 28 Juli 2026, misalnya, memperbaiki masalah model berkedip dan kegagalan rendering di Cinema 4D serta Blender pada Radeon RX 7000 ke atas. Pembaruan tersebut juga memperbaiki sejumlah crash Blender dan masalah FSR tertentu.

Namun fakta bahwa perbaikan terus diberikan juga menunjukkan bahwa persoalan driver belum benar benar hilang. Release notes AMD masih mencatat bug spesifik pada permainan atau aplikasi tertentu dari waktu ke waktu. Versi 26.6.1, misalnya, mencantumkan beberapa crash, masalah visual, serta kendala pada Blender sebelum sebagian diperbaiki pada rilis berikutnya.

Karena itu, lebih tepat mengatakan kualitas driver AMD terus berkembang, tetapi masalah kompatibilitas tetap dapat muncul seperti pada ekosistem GPU lainnya.

NVIDIA Masih Lebih Kuat untuk Sejumlah Aplikasi Profesional

Kekurangan Radeon mulai lebih mudah terlihat ketika penggunaan berpindah dari gaming menuju pekerjaan profesional tertentu. Tidak semua aplikasi kreatif memperlakukan GPU AMD dan NVIDIA secara sama.

Puget Systems menemukan RX 9070 XT dapat tampil sangat baik dalam sejumlah pekerjaan video, tetapi hasilnya berubah cukup besar bergantung pada aplikasi dan jenis media. Dalam Adobe Premiere Pro, kartu tersebut kuat pada beberapa pengujian LongGOP dan Intraframe, tetapi tertinggal ketika mengolah format RAW serta sejumlah efek berbasis GPU.

Pada Blender, perbedaannya bahkan dapat lebih besar. Pengujian Puget Systems pada lini Radeon terbaru menunjukkan GPU NVIDIA masih mempunyai keunggulan yang kuat pada rendering tertentu. Beberapa renderer profesional lainnya juga mempunyai dukungan AMD yang lebih terbatas.

Pengguna Octane, V Ray, Redshift, Blender, atau perangkat lunak profesional lain sebaiknya memeriksa dukungan GPU sebelum membeli. Pilihan terbaik untuk bermain game belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk mencari penghasilan melalui aplikasi 3D.

Ekosistem CUDA Masih Menjadi Keunggulan Besar NVIDIA

Persoalan lain muncul pada komputasi GPU. Banyak perangkat lunak profesional, penelitian, AI, dan machine learning dibangun atau dioptimalkan untuk CUDA milik NVIDIA.

AMD mempunyai ROCm sebagai platform komputasi terbuka untuk pemrosesan GPU. Dukungan Radeon melalui ROCm terus berkembang, termasuk pada lingkungan Linux dan Windows melalui skema dukungan tertentu. Namun daftar GPU, sistem operasi, framework, serta aplikasi yang kompatibel tetap perlu diperiksa dengan teliti.

Bagi pengguna biasa yang hanya bermain game, persoalan tersebut hampir tidak berpengaruh pada penggunaan sehari hari. Situasinya berbeda untuk programmer AI atau pengguna yang rutin menjalankan model machine learning lokal.

Banyak tutorial, pustaka, proyek GitHub, serta aplikasi AI awalnya dibuat dengan CUDA sebagai pilihan utama. Radeon terkadang membutuhkan pengaturan tambahan atau alternatif tertentu agar perangkat lunak dapat berjalan dengan baik.

Konsumsi Daya Bergantung pada Seri Radeon yang Dipilih

Anggapan bahwa seluruh VGA AMD boros listrik juga terlalu sederhana. Setiap GPU memiliki karakteristik berbeda. Radeon RX 9070, misalnya, memiliki Total Board Power resmi 220 watt, sementara RX 9070 XT berada pada 304 watt.

Angka tersebut perlu diperhitungkan saat memilih power supply, terutama jika PC menggunakan prosesor kelas atas, banyak kipas, penyimpanan tambahan, atau perangkat USB yang mengambil daya dari sistem.

Model kartu dari produsen seperti Sapphire, PowerColor, ASUS, Gigabyte, XFX, dan lainnya juga dapat mempunyai batas daya serta konfigurasi pendingin berbeda.

Pengguna tidak seharusnya membandingkan konsumsi listrik hanya berdasarkan nama AMD atau NVIDIA. Perbandingan yang lebih masuk akal dilakukan antara dua kartu yang berada pada kelas performa dan harga berdekatan.

Temperatur serta tingkat kebisingan juga bergantung pada desain cooler. Dua kartu menggunakan GPU Radeon yang sama dapat menghasilkan suhu dan suara kipas berbeda apabila desain pendinginnya tidak sama.

Harga Bagus di Atas Kertas Belum Tentu Sama dengan Harga di Toko

AMD sering menarik perhatian karena menawarkan spesifikasi kuat pada harga resmi yang agresif. Ketika diperkenalkan, Radeon RX 9070 XT memiliki harga resmi 599 dolar AS dan RX 9070 berada pada 549 dolar AS. Keduanya menggunakan VRAM 16 GB.

Tom’s Hardware menilai RX 9070 XT sebagai kartu dengan nilai dan performa kelas menengah atas yang sangat kuat. Namun publikasi tersebut juga mengingatkan bahwa harga ritel dan ketersediaan dapat mengubah daya tarik sebuah kartu.

Hal ini sangat penting bagi pembeli di Indonesia. Harga lokal dipengaruhi distributor, merek kartu, stok, kurs, promo, serta kondisi pasar. Radeon yang terlihat lebih murah berdasarkan harga resmi internasional belum tentu lebih murah ketika masuk toko lokal.

Pembeli sebaiknya membandingkan harga aktual dengan kartu GeForce yang memiliki performa mendekati. Selisih beberapa ratus ribu atau beberapa juta rupiah dapat mengubah pilihan secara signifikan.

Menurut penulis, membeli VGA berdasarkan loyalitas merek justru dapat merugikan pengguna. Kartu terbaik adalah kartu yang memberikan kombinasi performa, fitur, VRAM, dan harga paling sesuai dengan pekerjaan yang benar benar dilakukan.

Radeon Sangat Menarik untuk Gamer yang Mengejar Frame Rate Tinggi

Untuk PC yang sebagian besar digunakan bermain game, Radeon mempunyai posisi yang sangat kuat. Performa rasterisasi tinggi, kapasitas VRAM besar pada sejumlah model, serta perkembangan FSR membuatnya kompetitif pada resolusi 1080p dan 1440p.

Radeon RX 9000 juga memperbaiki kelemahan generasi sebelumnya pada ray tracing. Artinya, memilih Radeon saat ini tidak lagi berarti pengguna harus sepenuhnya meninggalkan fitur pencahayaan modern.

Pengguna game kompetitif bahkan dapat lebih mengutamakan rasterisasi karena target utamanya adalah frame rate tinggi dan latensi rendah. Radeon Anti Lag dan berbagai fitur di Adrenalin dapat melengkapi penggunaan tersebut.

Meski demikian, permainan favorit tetap perlu diperiksa satu per satu. Sebuah GPU dapat unggul cukup jauh dalam satu game tetapi tertinggal dalam game lainnya karena perbedaan engine dan optimasi.

Kreator Konten Perlu Melihat Workflow Sebelum Memilih Radeon

Radeon tidak otomatis buruk untuk pembuatan konten. Dalam beberapa pengujian video, RX 9070 XT justru mampu menghasilkan performa yang sangat baik. Puget Systems menemukan kartu tersebut sangat kompetitif dalam sejumlah pekerjaan LongGOP, Fusion, Unreal Engine, dan Topaz Video AI.

Masalahnya adalah performa tersebut tidak konsisten pada semua aplikasi. Beban kerja RAW, efek GPU tertentu, rendering offline, atau proses berbasis AI dapat lebih menguntungkan NVIDIA.

Karena itu, seorang editor video yang sebagian besar bekerja dengan format tertentu dapat mempunyai pengalaman berbeda dengan animator 3D, meskipun keduanya menggunakan komputer untuk pekerjaan kreatif.

Pengguna DaVinci Resolve juga perlu melihat jenis codec, efek, serta fitur AI yang paling sering digunakan. Begitu pula dengan pengguna Premiere Pro, After Effects, Blender, atau Unreal Engine.

Spesifikasi hardware hanya menjadi sebagian dari keputusan. Dukungan aplikasi dapat menentukan seberapa banyak kemampuan GPU benar benar dapat digunakan.

Periksa Game dan Aplikasi Utama Sebelum Membeli VGA AMD

Memilih VGA AMD sebaiknya dimulai dari daftar penggunaan PC, bukan dari nama merek. Gamer perlu menentukan resolusi monitor, target frame rate, jenis permainan, penggunaan ray tracing, serta kapasitas power supply. Kreator perlu memeriksa aplikasi, codec, renderer, serta fitur akselerasi yang digunakan setiap hari.

Radeon mempunyai keunggulan nyata pada rasterisasi, kapasitas VRAM di sejumlah kelas harga, kelengkapan AMD Software Adrenalin, serta perkembangan ray tracing dan FSR. Generasi RDNA 4 membuat posisi AMD jauh lebih kompetitif dibanding beberapa generasi sebelumnya.

Di sisi lain, NVIDIA masih memiliki keuntungan pada ekosistem perangkat lunak profesional, CUDA, sejumlah workload AI, rendering 3D tertentu, dan beberapa permainan dengan ray tracing yang sangat berat. Pengguna yang bekerja dengan Blender atau aplikasi profesional khusus perlu memberi perhatian lebih besar pada bagian tersebut dibanding sekadar melihat benchmark game.

Harga aktual akhirnya menjadi variabel terakhir yang sangat menentukan. Radeon yang dijual dengan harga agresif dapat menjadi pilihan sangat menarik untuk PC gaming, sedangkan selisih harga yang terlalu kecil dengan GeForce dapat membuat fitur perangkat lunak dan dukungan aplikasi menjadi pertimbangan yang jauh lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *